← Kembali ke Blog

Mengapa 32,9% Staf Kehilangan Vigor Kerja: Mengungkap Peran Kontrol dan Solusi Asesmen Person-Job Fit

By Tim Coreitera
Vigor Loss
Vigor Loss

Pernah nggak sih kamu merasa bangun pagi dengan semangat yang udah habis duluan? Atau menjalani hari kerja seperti robot, tanpa gairah dan motivasi, padahal dulu kamu antusias banget sama pekerjaan ini? Kalau iya, kamu nggak sendiri, lho. Banyak banget profesional muda (Gen Z dan Millennial) yang merasakan hal yang sama. Fenomena ini bukan sekadar capek biasa, tapi bisa jadi sinyal dari kondisi yang lebih dalam (vigor loss). Data menunjukkan, karyawan tingkat staf di Indonesia mengalami tingkat vigor loss yang jauh lebih tinggi dibandingkan level manajerial. Kok bisa? Yuk, kita bedah bareng.

Karyawan tingkat staf mengalami tingkat vigor loss (32,9%) dan kelelahan (24,8%) yang jauh lebih tinggi dibandingkan level manajerial. Ini terjadi akibat rendahnya kontrol kerja yang mereka miliki. Pemetaan Person-Job Fit sejak awal rekrutmen adalah kunci untuk mencegah penempatan kandidat pada lingkungan kerja yang secara psikologis menguras energi dan semangat mereka, menciptakan keselarasan yang berkelanjutan.

Apa Itu Vigor Loss dan Bedanya dengan Sekadar Capek Biasa?

Vigor loss adalah salah satu dimensi kunci dari burnout syndrome (Maslach Burnout Inventory/MBI), yang ditandai dengan penurunan energi, motivasi, dan perasaan antusiasme terhadap pekerjaan. Beda banget dengan capek biasa yang bisa hilang setelah istirahat atau liburan. Kalau capek biasa itu fisik atau mental sementara, vigor loss ini lebih ke arah hilangnya gairah dan energi psikologis yang persisten.

Ciri-ciri kamu mungkin mengalami vigor loss:

  • Sulit memulai pekerjaan: Rasanya berat banget buat mulai kerja, padahal tugasnya udah di depan mata.
  • Cepat lelah: Baru sebentar kerja, energi udah terasa terkuras habis.
  • Kurang antusiasme: Nggak ada lagi semangat atau gairah untuk menyelesaikan tugas atau proyek baru.
  • Perasaan hampa: Merasa pekerjaan yang dilakukan nggak punya makna atau tujuan yang jelas.
  • Penurunan produktivitas: Kualitas dan kuantitas kerja jadi menurun drastis.
  • Sering menunda-nunda: Tugas-tugas yang dulu mudah dikerjakan jadi sering ditunda.

Menurut penelitian, 32,9% karyawan tingkat staf di Indonesia mengalami vigor loss yang signifikan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rekan-rekan mereka di level manajerial. Ini menunjukkan bahwa posisi dan lingkungan kerja punya peran besar dalam menjaga semangat kerja kita.

Mengapa Staf Lebih Rentan Mengalami Vigor Loss Dibanding Manajerial?

Jawabannya terletak pada konsep job control. Karyawan tingkat staf seringkali memiliki tingkat kontrol yang lebih rendah terhadap pekerjaan mereka dibandingkan manajer. Kontrol kerja ini mencakup beberapa hal:

  • Otonomi: Seberapa besar kebebasan kamu dalam menentukan cara kerja, jadwal, atau prioritas tugas.
  • Pengambilan Keputusan: Seberapa besar keterlibatan kamu dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi pekerjaanmu.
  • Penggunaan Keterampilan: Seberapa besar kesempatan kamu untuk menggunakan dan mengembangkan keterampilan yang kamu miliki.

Ketika kontrol kerja rendah, staf cenderung merasa seperti "sekrup" dalam mesin besar, tanpa banyak ruang untuk berkreasi atau memberi dampak signifikan. Ini bisa bikin mereka merasa nggak berdaya dan pada akhirnya menguras energi psikologis. Ditambah lagi, data menunjukkan 24,8% staf juga mengalami tingkat kelelahan (exhaustion) yang tinggi, yang seringkali berjalan beriringan dengan vigor loss.

Mari kita lihat perbandingannya:

Faktor Kontrol

Tingkat Staf (Kontrol Rendah)

Tingkat Manajerial (Kontrol Tinggi)

Otonomi Tugas

Terbatas: Bekerja dalam koridor prosedur standar (SOP) yang kaku; ruang gerak sempit.

Luas: Memiliki wewenang untuk menentukan strategi dan metode terbaik demi mencapai target.

Pengambilan Keputusan

Pasif: Menjadi pelaksana dari keputusan yang sudah ditetapkan oleh pimpinan/sistem.

Aktif: Terlibat langsung dalam merumuskan arah proyek dan memengaruhi kebijakan tim.

Peluang Eksplorasi

Stagnan: Fokus pada repetisi tugas, seringkali merasa terjebak dalam rutinitas yang monoton.

Inovatif: Memiliki ruang untuk mengambil inisiatif, bereksperimen, dan memimpin perubahan.

Resiko Psikologis

Vigor Loss & Sinisme: Risiko tinggi mengalami kelelahan mental karena merasa tidak punya kuasa atas pekerjaannya.

Burnout Akibat Beban: Meski risiko stres tinggi, rasa memiliki (sense of ownership) menjaga motivasi tetap ada.

Dampak Perilaku

Cenderung bekerja hanya sesuai instruksi (quiet quitting).

Cenderung proaktif dan berorientasi pada solusi jangka panjang.

Kurangnya kontrol ini menciptakan lingkungan kerja yang menuntut (high demand) namun minim sumber daya (low control), sebuah resep ampuh untuk burnout.

Bagaimana Asesmen Psikologis Membantu Mencegah Vigor Loss Sejak Awal?

Nah, di sinilah pentingnya asesmen psikologis, terutama konsep Person-Job Fit. Person-Job Fit adalah keselarasan antara karakteristik individu (kepribadian, nilai-nilai, minat, keterampilan) dengan tuntutan, karakteristik, dan lingkungan kerja. Ketika ada fit yang baik, individu cenderung:

  • Merasa lebih puas dengan pekerjaan.
  • Lebih termotivasi dan terlibat (engaged).
  • Memiliki performa kerja yang lebih baik.
  • Lebih tahan terhadap stres dan burnout.

Asesmen psikologis seperti Big Five Inventory (BFI) untuk kepribadian, DISC untuk gaya perilaku, atau IDM (Interest & Drive Mapping) untuk minat dan motivasi, bisa jadi alat yang powerful. Dengan asesmen ini, perusahaan bisa:

  • Mengidentifikasi kandidat yang tepat: Memastikan individu ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan kepribadian dan preferensi mereka terhadap kontrol kerja.
  • Mencegah mismatch: Menghindari penempatan individu yang butuh otonomi tinggi di posisi dengan kontrol sangat rendah, dan sebaliknya.
  • Membangun lingkungan kerja yang suportif: Memahami profil karyawan untuk menciptakan desain pekerjaan yang lebih manusiawi dan memberdayakan.

Untuk kamu yang mulai merasa kehilangan arah, bingung apakah pekerjaan saat ini pas atau nggak, atau bahkan khawatir dengan vigor loss yang terus-menerus, asesmen bisa jadi kompas yang kamu butuhkan.

Kalau kamu lagi di awal karir dan butuh pencerahan cepat tentang potensi dan minatmu, Career Compass Coffee bisa jadi langkah awal yang pas banget buat kamu ngopi-ngopi sambil diskusi insight dari asesmen.

Bagi kamu yang mungkin merasa salah jurusan atau lagi mempertimbangkan career pivot karena pekerjaanmu sekarang nggak lagi bikin semangat, Career Compass Growth bisa bantu. Dengan asesmen komprehensif seperti BFI, DISC, dan IDM, kita bisa memetakan kekuatan, preferensi, dan arah karir yang lebih cocok buat kamu. Ini penting banget buat mencegah vigor loss di masa depan.

Namun, jika vigor loss sudah terasa sangat parah, mengarah ke burnout yang membuatmu sulit berfungsi, atau bahkan memicu pikiran negatif, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Kesehatan mental itu penting banget. Kamu bisa menghubungi partner psikologi kami, Teman Journey di Tebet, Jakarta Selatan melalui https://temanjourney.id/konsultasi atau hotline pencegahan bunuh diri di 119 ext 8.

_____

Kunjungi Link Coreitera berikut:

_____

Baca artikel Coreitera lainnya:

  1. Bukan Sekadar Lelah Biasa: Membedah 3 Tipe Burnout Profesional dan Kapan Itu Tanda Salah Role ,klik disini https://articles.coreitera.com/tipe-burnout-profesional-salah-role.
  2. Masa Depan Evaluasi Karyawan: Evolutionary OS untuk Pertumbuhan Optimal dan Pencegahan Burnout Dini, klik disini https://articles.coreitera.com/evolutionary-os-evaluasi-karyawan-pencegahan-burnout.

_____

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Vigor Loss dan Asesmen Kerja

Apa tanda-tanda utama vigor loss?

Tanda-tanda utama vigor loss meliputi penurunan energi, hilangnya antusiasme terhadap pekerjaan, perasaan hampa, kesulitan memulai tugas, dan penurunan produktivitas yang persisten. Ini berbeda dari kelelahan fisik biasa yang bisa pulih dengan istirahat.

Bisakah vigor loss diobati atau diatasi?

Tentu saja! Vigor loss bisa diatasi dengan mengidentifikasi akar masalahnya. Ini bisa melibatkan perubahan lingkungan kerja, penyesuaian peran, pengembangan coping mechanism, atau bahkan career pivot. Asesmen psikologis dapat membantu menemukan solusi yang tepat.

Bagaimana Person-Job Fit mencegah vigor loss?

Person-Job Fit mencegah vigor loss dengan memastikan bahwa karakteristik individu (misalnya, kebutuhan akan otonomi, nilai-nilai, dan kepribadian) selaras dengan tuntutan dan lingkungan kerja. Ketika ada keselarasan, individu akan merasa lebih engaged, termotivasi, dan kecil kemungkinannya mengalami pengurasan energi psikologis.

Apakah asesmen psikologis hanya untuk proses rekrutmen?

Nggak juga! Meskipun sering digunakan dalam rekrutmen, asesmen psikologis juga sangat bermanfaat untuk pengembangan karir, identifikasi potensi, perencanaan suksesi, dan bahkan untuk individu yang ingin memahami diri mereka lebih baik demi menemukan jalur karir yang lebih memuaskan dan mencegah burnout.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari vigor loss?

Waktu pemulihan dari vigor loss bervariasi setiap individu, tergantung pada tingkat keparahan dan akar penyebabnya. Bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Penting untuk melakukan intervensi dini, mencari dukungan, dan membuat perubahan yang diperlukan dalam pekerjaan atau gaya hidup.

_____

Ditulis oleh Moch Rafiqi | Insights oleh Galih Muji Agung & David Michael Simanjuntak